2.1. Teori tentang OPC dan APC
Tata letak pabrik atau tata letak
fasilitas dapat didefinisikan sebagai tata cara pengaturan fasilitas pabrik
guna menunjang kelancaran proses produksi (Wignjosoebroto, 2000). Berdasarkan
aspek dasar, tujuan, dan keuntungan yang bisa didapatkan dalam tata letak
pabrik yang terencanakan dengan baik, maka dapat disimpulkan enam tujuan dasar
dalam tata letak pabrik (Wignjosoebroto, 2003). Enam tujuan dasar tersebut
mencangkup integrasi secara menyeluruh dari semua faktor yang mempengaruhi
proses produksi, perpindahan jarak yang seminimal mungkin, Aliran kerja
berlangsung secara lancar melalui pabrik, semua area yang ada dimanfaatkan
secara efektif dan efisien, kepuasan kerja dan rasa aman dari pekerja dijaga
sebaik-baiknya, dan pengaturan tata letak harus cukup fleksibel.
Gambar 2.1 Siklus aliran bahan dalam
sebuah pabrik.
Sumber:
Wignjosoebroto (2000).
Sedangkan untuk macam-macam pola aliran bahan yang
biasa diterapkan suatu perusahaan adalah sebagai berikut:
Gambar 2.2 Pola aliran material
Sumber :
Apple (1990).
Pengaturan departemen dalam sebuah
pabrik (dimana fasilitas produksi akan diletakkan dalam tiap departemen sesuai
dengan pengelompokannya) akan didasarkan pada aliran bahan yang bergerak
diantara fasilitas produksi atau departemen tersebut. Ada dua macam analisa teknis
yang biasa digunakan dalam perencanaan aliran bahan (Wignjosoebroto, 2000).
Analisa konvensional merupakan metode yang umumnya digunakan selama
bertahun-tahun, relatif mudah untuk digunakan, dan terutama cara ini akan
berbentuk gambar grafis yang sangat tepat untuk maksud penganalisa aliran
semacam ini.
Analisa modern merupakan metode baru
untuk menganalisa dengan mempergunakan cara yang canggih dalam bentuk perumusan
dan pendekatan yang bersifat deterministik maupun probabilistik. Metode analisa
ini termasuk teknik penganalisaan modern yang merupakan bagian dari aktivitas
penelitian operasi, yang mana perhitungan yang kompleks akan dapat
”disederhanakan” dengan penerapan komputer. Teknik analisa ini bisa juga
digunakan untuk merencanakan metode seperti program linier, analisa
keseimbangan lintasan, teori antrian, dan lain-lain.
Beberapa teknik konvensional yang
umum dipakai dan berguna dalam proses perencanaan aliran bahan diantaranya peta
proses operasi, peta aliran proses, diagram aliran, peta proses produk-darab
(MPPC), peta dari-ke (from to chart) (Apple, 1990). Aliran bahan
bisa diukur secara kualitatif dengan menggunakan tolak ukur derajat kedekatan
hubungan antara suatu fasilitas (departemen) dengan fasilitas lainnya. Metode
kualitatif tersebut diantaranya dengan menggunakan diagram hubungan aktivitas
(ARD) dan peta hubungan aktivitas (ARC). Sedangkan untuk perancangan tata letak
fasilitas dengan menggunakan diagram pengalokasian wilayah (AAD), dan Template (Wignjosoebroto,
2000).
Peta proses operasi merupakan suatu
diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang akan dialami bahan baku
mengenai urutan operasi dan pemeriksaan (Sutalaksana, 2004).
Tabel 2.1 Tahapan Informasi untuk
Menyusun Peta Proses Operasi
No.
|
KETERANGAN
|
1.
|
Menyusun
benda kerja yang akan dibuat atau gambar teknik yang dibuat oleh perancang.
|
2.
|
Menguraikan
menjadi elemen-elemen penyusunnya.
|
3.
|
Analisis
tahapan-tahapan pengerjaan.
|
4.
|
Bahan baku
yang digunakan berikut dimensinya.
|
5.
|
Peralatan
atau mesin yang digunakan.
|
6.
|
Waktu
penyelesaian masing-masing aktivitas.
|
7.
|
Persentase scrap.
|
8.
|
Analisis
ulang.
|
9.
|
Ringkasan
aktivitas.
|
Adapun simbol atau lambang yang dipergunakan dalam
peta proses operasi menurut adalah sebagai berikut (Sutalaksana, 2004) :
Tabel 2.2 Lambang yang digunakan
dalam peta proses operasi
Aktivitas
|
Simbol
|
Keterangan Simbol
|
Operasi
|
Suatu
kegiatan operasi terjadi bila benda kerja mengalami perubahan sifat fisik
maupun kimiawi. Pada prakteknya lambang ini dapat juga dipergunakan untuk
menyatakan aktivitas administrasi misalnya aktivitas perencanaan dan
perhitungan.
|
|
Pemeriksanaan
|
Suatu
kegiatan pemeriksaan terjadi jika benda kerja atau peralatan mengalami
pemeriksaan, baik sebagai kualitas maupun kuantitas, lambang ini digunakan
bila dilakukan perbandingan obyek tertentu dengan suatu standar.
|
|
Aktivitas
Gabungan
|
Kegiatan
ini terjadi jika kegiatan operasi dan pemeriksaan dilakukan bersamaan atau
dilakukan pada suatu tempat kerja.
|
|
Penyimpanan
|
Proses
penyimpanan terjadi bila benda kerja disimpan dalam jangka waktu yang cukup
lama, dan jika benda kerja tersebut akan diambil kembali, biasanya memerlukan
suatu prosedur perizinan tertentu.
|
2.2 Teori Routing sheet
Lembar urutan proses (routing sheet) adalah tabulasi
langkah-langkah yang dicakup dalam memproduksi komponen tertentudan rincian
yang perlu dari hal-hal yang berkaitan (Apple,1990). Tujuan dari routing sheet
adalah untuk mengetahui jumlah mesin atau peralatan produksi yang diperlukan
dalam memenuhi jumlah produksi yang diinginkan, dengan memperhatikan persentase
scrap, kapasitas mesin atau peralatan dan efisensi departemen atau pabrik.
Informasi yang dapat diperoleh dari Routing Sheet :
- Jumlah yang disiapkan oleh tiap
operasi
- Jumlah yang dihasilkan dengan
efisiensi yang telah ditentukan
- Jumlah mesin teoritis dan
aktual
Contoh tabel urutan proses seperti ditunjukkan pada
tabel berikut ini:
Tabel 2.3 Contoh Tabel Urutan Proses
dan Perhitungan Kebutuhan Mesin
No.
Operasi
|
Deskripsi
|
Nama Mesin/peralatan
|
Produksi mesin/jam
(menit)
|
% Scrap
|
Bahan yang diminta
(unit)
|
Bahan yang disiapkan
(unit)
|
Produksi
dengan
Efisiensi
(unit)
|
Kebut. Mesin
|
|
Teoritis
(unit)
|
Aktual
(unit)
|
||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
2.3 Teori
tentang MPPC
Peta proses produk darab (MPPC), ialah
suatu diagram yang menggambarkan aliran atau urutan operasi kerja tiap elemen
produk disetiap mesin atau stasiun kerja (Wignjosoebroto, 2000). Untuk membuat
peta proses produk darab diperlukan data yang bersumber dari urutan produksi.
Urutan produksi adalah tabulasi langkah-langkah yang dicakup dalam memproduksi
komponen tertentu dan rincian yang perlu dari hal-hal yang berkaitan (Apple,
1990).
Berikut contoh tabel peta proses produk darab.
Tabel 2.4 Peta Proses Produk darab
Deskripsi Peralatan
|
Nomor Komponen
|
Jumlah mesin
|
||||
100
|
200
|
300
|
400
|
Teoritis
|
Aktual
|
|
Receiving
Meja
Pabrikasi
………………………………………………………………………
|
||||||
Pemindahan bahan adalah suatu aktivitas yang sangat
penting dalam kegiatan produksi dan memiliki kaitan erat dengan perencanaan
tata letak fasilitas produksi (Kurniawan). Beberapa aktivitas pemindahan bahan
yang perlu diperhitungkan adalah sebagai berikut (Wignjosoebroto, 2000) :
Tabel 2.5 Aktivitas Pemindahan Bahan
No
|
Keterangan
|
1.
|
Pemindahan
bahan dari gudang bahan baku menuju fabrikasi maupun assembling.
|
2.
|
Pemindahan
bahan yang terjadi diproses satu jenis mesin menuju mesin lainnya :
Dari mesin
menuju mesin fabrikasi lainnya
Dari mesin
fabrikasi menuju mesin assembling
Dari mesin
assembling menuju mesin lainnya
|
3.
|
DAFTAR PUSTAKA
Sutalaksana,
Iftikar Z., dkk. 2004. Teknik Tata Cara
Kerja. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Apple, James M. 1990. Tata Letak
Pabrik dan Pemindahan Bahan. Edisi Ketiga. Bandung: Institut Teknologi
Bandung.
Wignjosoebroto, Sritomo. 2000. Perancangan
Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Jakarta: PT. Widya.
Purnomo, Hari. 2004. Perencanaan dan
Perancangan Fasilitas. Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar